Saya tidak pernah membayangkan bahwa dua digit terakhir dari NIM saya, "002", akan menjadi ironi yang begitu mendalam dalam perjalanan hidup saya. Angka tersebut seakan mengatakan bahwa saya adalah mahasiswa yang sangat passionate terhadap Jurusan Pendidikan Matematika UNESA, padahal kenyataannya sangat berbeda. Cerita saya dimulai dengan sebuah keputusan yang penuh dilema, ketika saya harus memilih antara mengejar impian atau mengambil jalan yang lebih aman.
Perjalanan yang Tidak Pernah Direncanakan
Tahun 2023 adalah tahun yang mengubah segalanya bagi saya. Saat itu, saya begitu yakin bahwa Computer Science Universitas Indonesia adalah takdir saya. Passion terhadap programming yang telah saya bangun secara otodidak sejak SMA, ditambah dengan berbagai prestasi di bidang informatika, seolah memberikan sinyal yang jelas bahwa dunia teknologi adalah rumah bagi saya. Bahkan sebelum SNBP, saya sudah apply beasiswa MITSUI BUSSAN 2023 dengan rencana mengambil Computer Science di Waseda University atau University of Tokyo atau univ jepang lainnya.
Ketika saya berhasil melaju hingga tahap wawancara akhir beasiswa tersebut, hanya selangkah lagi dari diterima di antara ribuan pendaftar dengan kuota hanya dua orang, saya merasa bahwa mimpi internasional saya sudah di depan mata. Namun takdir berkata lain. Kegagalan di tahap akhir tersebut bukan hanya menutup pintu ke Jepang, tetapi juga memberikan pelajaran pertama tentang ketidakpastian hidup yang harus saya hadapi dengan kepala dingin.
Kemudian datang momen SNBP. Computer Science UI di pilihan pertama, dan atas saran guru SMA yang khawatir dengan tingkat kompetisi UI, saya menempatkan Pendidikan Matematika UNESA di pilihan kedua sebagai "jaga-jaga". Pada saat itu, keputusan tersebut terasa seperti formalitas belaka. Saya bahkan tidak melakukan riset mendalam tentang jurusan ini. Yang saya tahu hanyalah matematika dan saya bisa matematika, jadi seharusnya tidak masalah.
Ketika pengumuman SNBP keluar dan saya diterima di pilihan kedua, bukan pertama, dunia saya seakan berhenti berputar. Ini bukan tentang prestise universitas atau ranking jurusan, tetapi tentang identitas diri yang sudah saya bangun bertahun-tahun. Saya merasa seperti sedang berdiri di persimpangan antara mengambil apa yang sudah ada di depan mata atau berjuang lagi melalui jalur SNBT dan ujian mandiri untuk mengejar impian yang sesungguhnya.
❋ ❋ ❋
Dilema yang Mengubah Hidup
Malam-malam setelah pengumuman SNBP adalah malam-malam terpanjang dalam hidup saya. Saya tahu bahwa secara teknis, saya bisa saja menolak penerimaan di UNESA dan mencoba peruntungan lagi di jalur lain. Namun ada beberapa konsekuensi yang harus saya pertimbangkan dengan matang. Sekolah asal saya kemungkinan akan di-blacklist oleh UNESA, dan ini akan berdampak pada adik-adik kelas yang ingin melanjutkan ke universitas yang sama. Ada tanggung jawab moral yang tidak bisa saya abaikan begitu saja.
Yang membuat saya paling terpukul adalah ketika saya menyadari bahwa selama ini saya terlalu fokus pada destination tanpa mempertimbangkan journey yang harus saya lalui. Orang tua saya, yang selalu mengajarkan saya untuk bertanggung jawab atas setiap keputusan dan mengolah emosi dengan bijak, tidak pernah memaksa saya untuk mengambil pilihan tertentu. Mereka hanya bertanya, "Apakah kamu siap bertanggung jawab dengan pilihan yang akan kamu ambil?"
Pertanyaan sederhana itu memaksa saya untuk melihat situasi ini dari perspektif yang lebih dewasa. Saya akhirnya memutuskan untuk mengambil tantangan di UNESA, meskipun deep down saya tahu bahwa saya akan menghadapi kesulitan yang luar biasa. Keputusan ini bukan tentang menyerah pada impian, tetapi tentang belajar beradaptasi dan menemukan cara baru untuk mengekspresikan passion saya.
Realitas yang Memukul Keras
Semester pertama di Jurusan Pendidikan Matematika UNESA adalah reality check yang paling brutal dalam hidup saya. Kalkulus Diferensial, mata kuliah yang saya anggap mudah karena pengalaman di SMA, ternyata berada di level yang sama sekali berbeda. Ini bukan lagi tentang menerapkan rumus, tetapi tentang memahami konsep-konsep abstrak yang membutuhkan cara berpikir yang sama sekali baru bagi saya.
Saya ingat betul momen ketika saya duduk di perpustakaan sampai senja tiba, bergelut dengan soal-soal yang terasa asing meski menggunakan simbol-simbol matematika yang familiar. Air mata frustrasi sering kali jatuh di atas buku-buku tebal itu, bukan karena saya tidak mampu, tetapi karena saya merasa seperti ikan yang dipaksa untuk hidup di darat. Setiap kali menghadapi mata kuliah seperti Kalkulus Integral, Geometri, Geometri Analitik, Aljabar Linear Elementer, Riset Operasi dan Persamaan Diferensial Biasa, saya selalu bergumam dalam hati, "Wah, salah jurusan nih."
Namun ada momen-momen terang benderang yang membuktikan bahwa takdir tidak pernah salah alamat. Ketika saya bertemu dengan mata kuliah seperti Teori Bilangan Elementer, Aljabar Abstrak, Dasar-Dasar Matematika, Statistika dan Analisis Real, saya merasakan kembali gairah belajar yang sama seperti ketika pertama kali jatuh cinta dengan programming. Mata kuliah-mata kuliah yang berfokus pada logika matematis ini ternyata sangat sejalan dengan cara berpikir saya yang sistematis dan analitis.
Lebih dari itu, mata kuliah dalam lingkup pendidikan justru membuka cakrawala baru bagi saya. Background ilmu sosial yang saya miliki dari prestasi-prestasi debat dan OSN IPS ternyata memberikan perspektif unik dalam memahami dinamika pembelajaran dan psikologi pendidikan. Saya mulai menyadari bahwa pengalaman mengajar les coding dan speedcubing dalam skala kecil yang selama ini saya lakukan ternyata memberikan fondasi yang kuat untuk memahami teori-teori pendidikan yang lebih kompleks.
❋ ❋ ❋
Metamorfosis Melalui Prestasi
Filosofi "Jack of All Trades, Master of None" yang selama ini saya anggap sebagai kelemahan, perlahan mulai menunjukkan kekuatannya ketika saya memasuki dunia kompetisi di tingkat universitas. Keberagaman minat dan kemampuan yang saya miliki tidak lagi terasa seperti beban, tetapi justru menjadi aset yang sangat berharga dalam menghadapi berbagai jenis lomba.
Ketika saya dan tim berhasil meraih Peringkat 3 di KRI divisi KRTMI tahun 2023 tingkat regional, kemudian berlanjut ke Peringkat 8 besar tingkat nasional pada tahun 2024, saya menyadari bahwa background programming saya tidak hilang begitu saja. Justru, pemahaman matematika yang semakin dalam memberikan perspektif baru dalam algoritma dan logika robotika yang lebih sophisticated.
Prestasi demi prestasi terus mengalir. PKM-KC yang lolos pendanaan dan masuk 10 besar tingkat nasional membuktikan bahwa kemampuan karya tulis ilmiah saya tidak berkarat. Juara-juara di berbagai kompetisi, mulai dari WordPress Case Competition, Statistics Infographic Competition, hingga Business Plan Competition, menunjukkan bahwa adaptabilitas saya terhadap berbagai format kompetisi justru semakin terasah.
Momen paling membanggakan adalah ketika saya berhasil meraih Juara 1 Lomba Inovasi Media Pembelajaran Digital di tingkat nasional, dan Silver Medal di kompetisi internasional di Universiti Malaya. Prestasi-prestasi ini bukan hanya tentang pengakuan eksternal, tetapi tentang validasi internal bahwa pilihan untuk bertahan di jurusan ini adalah keputusan yang tepat.
Yang membuat saya paling tersentuh adalah ketika saya terpilih sebagai Best Presenter di konferensi internasional InCIRESMa 2025 dalam bidang STEM Education. Di panggung itu, berbicara di depan akademisi dari beberapa negara, saya menyadari bahwa perjalanan panjang dari keraguan hingga kepercayaan diri telah membentuk saya menjadi individu yang jauh lebih kuat dan versatile dibanding versi saya yang dulu.
Actions Speak Louder Than Words: Prinsip Hidup yang Tidak Pernah Berubah
Sepanjang perjalanan ini, satu prinsip yang tidak pernah saya tinggalkan adalah "Actions Speak Louder Than Words." Setiap kali saya merasa down karena mata kuliah yang sulit, saya tidak larut dalam keluhan, tetapi langsung mencari cara untuk mengubah kelemahan menjadi kekuatan melalui tindakan nyata.
Ketika merasa kurang percaya diri dengan kemampuan matematika teoritis, saya kompensasi dengan mengembangkan kemampuan aplikatif melalui programming dan robotika. Ketika merasa tidak cocok menjadi guru di ruang kelas besar, saya cari cara untuk tetap berkontribusi di dunia pendidikan melalui inovasi media pembelajaran digital. Setiap tantangan selalu saya jawab dengan action, bukan dengan resignation.
Lolosnya penelitian skema kebijakan fakultas tahun 2025 adalah bukti nyata bahwa saya tidak hanya bicara tentang integrasi teknologi dan pendidikan, tetapi benar-benar melakukan riset untuk mewujudkannya. Partisipasi saya dalam PKM Internasional dengan National Taiwan Normal University menunjukkan bahwa saya tidak hanya bermimpi tentang kolaborasi internasional, tetapi aktif mencari dan memanfaatkan setiap peluang yang ada.
❋ ❋ ❋
Motivasi Mengikuti Kompetisi: Lebih dari Sekedar Menang
Kompetisi ini datang di timing yang sangat tepat dalam perjalanan hidup saya. Setelah lima semester bergulat dengan identitas diri, melewati fase denial, anger, bargaining, depression, dan akhirnya acceptance, saya kini berada di fase yang paling produktif dan optimis. Saya tidak lagi melihat diri saya sebagai mahasiswa yang salah jurusan, tetapi sebagai individu unik yang memiliki kombinasi kemampuan yang langka.
Pertama, saya ingin membuktikan bahwa mahasiswa Pendidikan Matematika tidak terbatas pada stereotip yang selama ini ada. Kami tidak hanya calon guru yang akan mengajar di depan kelas, tetapi problem solver yang memiliki fondasi logika matematis yang kuat dan kemampuan komunikasi yang baik. Kombinasi ini sangat powerful untuk berbagai jenis kompetisi, terutama yang membutuhkan kemampuan analisis sekaligus presentasi yang menarik.
Kedua, saya ingin menunjukkan bahwa journey yang tidak linear tidak selalu berarti journey yang gagal. Perjalanan saya dari Computer Science enthusiast yang terdampar di Pendidikan Matematika, kemudian menemukan cara unik untuk mengintegrasikan kedua passion tersebut, adalah contoh nyata bahwa "sometimes the best destinations are the ones we never planned to reach".
Ketiga, saya melihat kompetisi ini sebagai platform untuk membuktikan filosofi "Jack of All Trades, Master of None, but oftentimes better than a Master of One." Dalam era yang semakin kompleks ini, kemampuan untuk melihat masalah dari multiple perspectives dan menggunakan interdisciplinary approach sering kali memberikan solusi yang lebih inovatif dibanding single-focused expertise.
Keempat, saya ingin memberikan inspirasi kepada adik-adik tingkat yang mungkin sedang mengalami quarter-life crisis atau identity confusion seperti yang saya alami dulu. Bahwa okay untuk merasa lost, okay untuk merasa salah jalan, yang tidak okay adalah berhenti berusaha dan menyerah pada circumstances.
Visi ke Depan: Mengubah Tantangan Menjadi Peluang
Melalui kompetisi ini, saya tidak hanya ingin meraih prestasi untuk diri saya sendiri, tetapi juga untuk mengangkat nama Program Studi Pendidikan Matematika dan UNESA ke level yang lebih tinggi. Setiap prestasi yang saya raih adalah investasi untuk reputasi almamater dan bukti konkret bahwa mahasiswa dari jurusan kami memiliki kualitas yang tidak kalah dengan jurusan-jurusan lain yang mungkin lebih populer.
Saya juga ingin menggunakan platform ini untuk membangun network yang lebih luas, tidak hanya dengan sesama mahasiswa Pendidikan Matematika, tetapi juga dengan mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu. Cross-pollination of ideas yang terjadi dalam interaksi tersebut sering kali menghasilkan breakthrough yang tidak terduga.
Yang paling penting, saya ingin membuktikan kepada diri saya sendiri bahwa keputusan untuk bertahan di jurusan ini adalah keputusan yang tepat. Setiap kompetisi yang saya ikuti adalah validation yang saya butuhkan untuk terus melangkah dengan percaya diri, knowing that I'm exactly where I need to be.
Perjalanan empat setengah semester di Pendidikan Matematika UNESA telah mengajarkan saya bahwa resilience bukan tentang tidak pernah jatuh, tetapi tentang bangkit setiap kali jatuh dengan lebih kuat dan lebih wise. Kompetisi ini adalah kesempatan untuk menunjukkan bahwa saya tidak hanya survive, tetapi thrive dalam kondisi yang awalnya terasa tidak ideal.
Saya siap untuk tidak hanya berpartisipasi, tetapi untuk memberikan yang terbaik, karena saya tahu bahwa "every competition is not just about winning, it's about becoming a better version of myself". Dan versi terbaik dari Misel Rajasyah Hadi Putra adalah seseorang yang tidak pernah berhenti belajar, tidak pernah berhenti berinovasi, dan tidak pernah berhenti membuktikan bahwa "actions will always speak louder than words".